Arumdina

ASAL USUL BATU KINYANG CIMERANG SUKABUMI

  

Pada zaman dahulu, di Sukabumi ada sebuah negara yang bernama Gegerwitung. Gegerwitung adalah suatu negara kecil yang termasuk kepada wilayah dan kekuasaan Pajajaran. Negara Gegerwitung dipimpin oleh seorang Raja dan Ratu. Mereka memiliki seorang anak perempuan bernama Putri Laras Pandan Layung yang sangat berani dan cantik.

Suatu ketika, Kerajaan Pajajaran diserang oleh musuh dari arah timur. Begitu juga dengan Gegerwitung yang termasuk ke dalam wilayah itu. Negara Gegerwitung hancur lebur diserbu oleh musuh. Negara yang asal mulanya tentram sudah diporak-porandakan. Akibat penyerangan tersebut banyak rakyat Gegerwitung yang meninggal dan menderita. Dalam waktu yang singkat, negara Gegerwitung sudah dikuasai oleh musuh. Raja dan keluarganya hampir semua gugur di medan perang dalam usahanya mempertahankan negara. Untunglah, ada satu orang yang selamat yaitu Putri Laras Pandan Layung, putri sang Raja.

Putri Laras Pandan Layung selamat karena ia sedang berada di alun-alun sebelah barat Gegerwitung untuk menghadapi musuh. Putri Laras Pandan Layung sangat sedih mengetahui bahwa keluarganya gugur dalam peperangan. Ia kini sebatang kara. Raja dan Ratu telah wafat. Rakyatnya banyak yang menderita dalam tawanan musuh. Ia menangis melihat kekacauan di negaranya. 

Putri Laras Pandan Layung memutuskan untuk tetap tegar. Dengan berat hati, sang Putri pergi meninggalkan negeri yang ia cintai. Ia pergi menelusuri jalan ke arah selatan tanpa tujuan yang pasti kemana. Ia hanya ingin menemukan tempat yang aman untuk ditinggali.

Kaki sang Putri yang halus kini sudah nampak luka karena terus berjalan, selendangnya sudah lusuh terkena debu dan tanah. Perjalanannya yang panjang akhirnya terhenti di sebuah lembah. Rasa lelah mendorongnya untuk beristirahat sejenak di bawah pohon rindang. Ia menekuk lututnya dan memeluknya dengan erat. Seketika ia teringat akan orang tua dan rakyatnya yang sudah meninggal, munculah air mata membasahi mata dan pipinya.

“Aku telah kehilangan orang-orang yang kucintai. Dan sekarang aku sebatang kara.” Ia berucap di dalam hati. Pikirannya semakin kacau sehingga ia terus menangis sampai tersedu-sedu.

“Putri...” tiba-tiba sebuah suara terdengar. Putri Laras Pandan Layung mengangkat kepalanya dengan tatapan terkejut. “Janganlah bersedih hati,” lanjut suara itu. Putri semakin terkejut karena tidak ada siapapun di sana. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari orang, tetapi nihil.

“Siapa kau?” tanya Putri dengan suara serak.

“Janganlah bersedih hati. Pergilah ke sebuah tempat di mana Ki Resi Girang Madenda berada di dekat curug Cimerang. Percayalah kepada saya,” kata suara itu. 

Pada awalnya Putri Laras Pandan Layung merasa ragu apakah suara itu benar adanya, namun ia juga merasa orang yang bernama Ki Resi Girang Madenda itu akan menolongnya. Setelah suara itu tidak lagi terdengar, ia bangkit dari duduknya kemudian melangkah pergi mencari Ki Resi Girang Madenda ke curug Cimerang.

Di dalam perjalanan, Putri Laras Pandan Layung memakan tumbuhan yang bisa dimakan, umbi-umbian serta minum dari sungai yang mengalir. Perjalanannya cukup jauh tapi ia tetap memberanikan dan menguatkan diri agar sampai ke tempat Ki Resi Girang Madenda. Putri Laras Pandan Layung melihat ada sebuah sungai, ia terus mengikuti sungai itu sampai ke hulu. Tak lama kemudian, Putri Laras menemukan sebuah curug yang ia yakini sebagai curug Cimerang. Di sekitar curug tersebut ada sebuah gubug kecil. Ia mendekati gubug tersebut dengan penuh harap bahwa itu adalah tempat tinggal Ki Resi Girang Madenda. Dari jarak yang tidak jauh, Putri Laras Pandan Layung melihat seorang laki-laki yang sudah tua. Di kepalanya terdapat ikat kepala dan jenggotnya panjang berwarna putih.

Putri Laras Pandan Layung menemui laki-laki tua tersebut. Laki-laki tua itu menoleh kepadanya, “Kau siapa dan apa yang membawamu kemari, Nak?”

“Saya Putri Laras Pandan Layung dari negara Gegerwitung. Saya ke sini karena ada sebuah suara yang menyuruh saya ke tempat ini. Apakah benar aki bernama Ki Resi Girang Madenda?” tanya Putri Laras Pandan Layung.

Laki-laki tua itu mengangguk sambil tersenyum. “Perjalananmu pasti jauh untuk sampai ke sini, Nak. Silahkan masuk dan duduklah.”

Mereka berdua duduk berhadapan di atas lantai berbilik. Ki Resi Girang Madenda menanyakan bagaimana Putri Laras Pandang Layung bisa sampai ke curug Cimerang. Putri Laras Pandan Layung juga menceritakan malapetaka yang menimpa negara dan kedua orang tuanya sambil menangis. Kemudian Ki Resi Girang Madenda berkata, “Ikutilah perintahku.”

Maka Putri Laras Pandan Layung duduk di atas sebuah batu di bawah curug Cimerang sesuai titah Ki Resi Girang Madenda. Ia menyendiri di atas batu tersebut setiap hari. Angin yang semilir lembut, suara kicauan burung dan segarnya suasana di curug Cimerang dapat membuat hati Putri Laras Pandan Layung lebih tenang. Ia meminta kepada Yang Kuasa berupa kekuatan. Ia sadar bahwa ia tidak bisa membantah takdir yang sudah ditetapkan untuknya.

Suatu ketika, tepat setahun Putri Laras Pandan Layung merenung, tiba-tiba awan menjadi gelap, hujan turun deras, dan banjir yang besar datang dengan suara gemuruh. Bencana tersebut dengan cepatnya menghanyutkan Putri Laras Pandang Layung. Ki Resi Girang Madenda yang mendengar suara gemuruh tersebut berusaha keluar dan melihat Putri Laras Pandan Layung. Namun jasad Putri Laras Pandan Layung menghilang, yang tertinggal di atas batu hanyalah sabuk kerajaan yang digunakan Putri Laras Pandan Layung. Sabuk itu berhiaskan permata yang berkilauan.

“Pada akhirnya kau pergi menyusul orang tuamu, Nak. Dan kau akan diingat oleh orang-orang,” kata Ki Resi Girang Madenda. Tak lama setelah kejadian tersebut, Ki Resi Girang Madenda pun meninggal dunia di depan gubugnya.

Batu permata yang ditemukan itu konon menjadi banyak di curug Cimerang. Warnanya bagus berkilauan. Kemudian batu-batu tersebut dinamakan batu Kinyang yang kini digunakan sebagai perhiasan seperti cincin. Sementara itu Cimerang kini menjadi sebuah kampung yang besar. 


PENULIS

Arumdina

ASAL CERITA

BAHASA

Bahasa Indonesia

KATEGORI

Cerita Rakyat

LABEL

batukinyangcimerangsukabumi
Favorit
Belum ada tanggapan di cerita ini
v: 2.1.1