Refa Ardika

Asal Usul Desa Bunihayu

  

Di sebuah daerah terpencil terdapat kampung yang begitu tenteram. Kampung tersebut terletak di Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat. Warga di kampung tersebut subur dan makmur. Mereka giat bekerja. Mereka menopang hidupnya dengan cara bertani. Padi yang mereka tanam tumbuh dengan subur. Tak heran jika hasil panen mereka selalu menguntungkan dan jarang sekali mengalami kerugian.


Selain menanam padi, mereka juga berkebun. Mereka biasanya menanam jagung, palawija, cengkeh, nanas, dan lain sebagainya. Namun dari sekian banyak tanaman dan buah yang mereka tanam, buah nanaslah yang paling banyak ditanam. Hasil panen nanas pun selalu melimpah. Apalagi ada nanas simadu yang menjadi unggulan. Nanas simadu rasanya manis sekali. Tak heran di pusat kecamatan Jalancagak dibuatlah patung nanas. Buah nanas menjadi ikon kota Subang hingga saat ini. 


Suatu ketika, datanglah beberapa tentara Belanda ke kampung mereka. Mereka datang dengan membawa senapan di tangan. Warga pribumi menjadi ketakutan. Suasana yang awalnya aman dan tentram tiba-tiba menjadi mencekam. Mereka berhasil menakuti warga kampung. Sampailah mereka di sebuah warung yang berada di tengah perkampungan. 

“Hei, warga kampung! Siapakah di antara kalian yang tahu rumah kepala kampung di sini?” seru seorang di antara mereka bertanya dengan lantang. 


Tak ada satu pun warga yang menjawab pertanyaan itu. Mereka memilih diam. Tentara Belanda tersebut memaksa seorang kakek tua renta untuk menjawab. Ia bahkan bertindak semena-mena terhadap si kakek. Warga kampung yang menyaksikan semakin ketakutan. Namun tiba-tiba datanglah seorang pemuda yang berani menghadapi pasukan tentara Belanda tersebut. Ia bahkan menunjukkan di mana letak rumah kepala kampung yang tak lain adalah kakeknya sendiri. 


Ia membopong si kakek yang sedang ketakutan untuk berdiri. Sementara tentara-tentara Belanda tersebut segera bergegas ke rumah kepala kampung yang berada di ujung jalan.

Tak berapa lama, sampailah mereka di rumah kepala kampung. Tanpa basa-basi para tentara Belanda tersebut langsung memberikan peringatan yang bernada ancaman. Mereka meminta agar kepala kampung memerintahkan warganya untuk segera mengosongkan kampung dan wilayah sekitarnya. Mereka ingin menguasai kampung yang subur dan makmur tersebut. 


“Sebaiknya anda dan warga kampung di sini segera angkat kaki dari sini!”

“Ya, kosongkan wilayah ini secepatnya jika kalian ingin selamat!” ujar salah seorang di antara mereka. 

“Apa maksud kalian berbicara seperti itu? Ini kampung kami. Tempat tinggal kami. Dan kalian tiba-tiba saja datang untuk mengusir kami. Jangan harap kami akan menyerah. Kami tidak takut!” jawab kepala kampung tak kalah tegasnya.

“Sebaiknya jangan banyak bicara. Jika kalian tetap bersikukuh untuk tetap tinggal di sini, maka jangan salahkan kami jika kampung ini kami serang!”

“Jangan coba-coba menakuti kami. Kami warga pribumi. Kalianlah yang harus angkat kaki dari sini!” jawab pak kepala kampung.


Mendengar jawaban dari kepala kampung seperti itu, para tentara Belanda tersebut berniat untuk pergi meninggalkannya. Salah seorang di antara mereka memberi isyarat agar mereka sebaiknya pergi saat itu juga.


Warga kampung merasa aman untuk sementara waktu. Mereka bersyukur memiliki kepala kampung yang tegas dan tidak gentar menghadapi para penjajah. Mereka pun kembali ke rumahnya masing-masing. Namun pemuda pemberani yang tak lain adalah cucu dari kepala kampung itu berusaha mengikuti dan membuntuti para tentara Belanda. Dengan mengendap-endap dia mengikuti dari belakang melewati hutan bambu dan perkebunan teh. Dia mencurigai mereka untuk tetap bersikeras mengusai kampung mereka tercinta. 


Ketika sampai di markas mereka, para tentara Belanda berkumpul di suatu tempat. Bangunan markas tersebut memiliki halaman yang sangat luas dengan dikelilingi penjagaan yang ketat. Pohon-pohon besar mengitari markas tersebut. Pemuda pemberani itu menyelinap dengan sangat hati-hati. Ia waspada dan memastikan tidak ada salah seorang di antara mereka yang mengetahui keberadaanya. Tampak mereka sedang berbincang di sebuah ruangan yang cukup besar. Ruangan itu ternyata tempat mereka berkumpul untuk menyusun strategi perang. Salah seorang di antara mereka mulai memimpin perbincangan. Ternyata mereka sangat menginginkan kampung tersebut karena tanahnya yang subur. Tak hanya itu, wilayahnya sejuk dikelilingi area perkebunan dengan hasil panen yang melimpah ruah. Mereka ingin mengambil alih lahan perkebunan dan tinggal di sana. Untuk itu mereka menyusun rencana agar dapat menguasai kampung tersebut dengan segera. Mereka pun meminta bala bantuan ke tentara Belanda di wilayah lain untuk menyatukan kekuatan. Dalam hal ini mereka sepertinya tidak gegabah. Mereka menyusun strategi yang matang dan siap menyerang. Mereka melakukan persiapan untuk berperang melawan warga pribumi. 


Mengetahui rencana mereka begitu matang, pemuda tersebut bergegas menemui kakeknya. Kemudian kepala kampung berencana mengumpulkan semua warga keesokan harinya. Namun tanpa diduga ketika warga kampung sedang terlelap dalam tidurnya,  mereka dikejutkan dengan suara tembakan. Kaum perempuan dan anak-anak menjerit, mereka menangis histeris. Mereka panik dan sangat ketakutan. Sementara kaum laki-laki pribumi berusaha melawan dengan peralatan seadanya. Mereka berusaha melindungi kampung mereka dari serangan penjajah. Tetapi mereka tak berdaya. Dengan alat perang seadanya mereka kewalahan melawan para tentara Belanda. Beberapa di antara mereka gugur dalam pertempuran itu. Sementara beberapa warga yang lain berhasil melarikan diri ke tempat yang aman. Mereka saling berteriak dan memberi tahu satu sama lain. Pemimpin kampung dan cucunya yang pemberani berusaha mengajak mereka untuk bersembunyi ke tempat yang lebih aman. 


“Cepaaaatttt! Ke Cibuni, hayuuuuuuu…! Cepat, cepat! Ke Cibuni hayuuuu…! Hayuuu…!” teriak kepala kampung. Warga yang lain pun ikut berteriak. “Ke Cibuni..hayuuu….Ke Cibuni….hayuuuu….” Mereka berteriak saling bersahutan. Dengan segera warga berlarian. Mereka bahu membahu untuk membantu satu sama lain. Beberapa orang di antara mereka terluka karena terkena serangan peluru. Mereka dibantu warga yang lain untuk melarikan diri dan bersembunyi ke area pesawahan Cibuni.


Mereka yang berhasil melarikan diri ke Cibuni akhirnya selamat dari serangan musuh. Mereka menata kehidupan mereka yang baru di sana. Mereka pun mulai bertani dan bercocok tanam kembali. Mereka hidup rukun dan saling berdampingan. Sejak saat itu warga kampung memilih tinggal di Cibuni untuk selama-lamanya. Mereka pun menamakan tempat tinggal baru itu dengan nama “Bunihayu”.


Begitulah asal usul nama Desa Bunihayu di Kecamatan Jalancagak Kabupaten Subang. “Buni” berasal dari bahasa Sunda yang berarti “tidak mudah terlihat atau ditemukan” dan merupakan nama salah satu area pesawahan di daerah tersebut yang wilayahnya cukup tersembunyi. Sedangkan kata “hayu” dalam bahasa Indonesia berarti “ayo”. Sehingga bisa diartikan sebagai ajakan untuk bersembunyi ke tempat yang tersembunyi. Hingga sekarang Desa Bunihayu menjadi desa yang subur dan melimpah hasil pertanian serta perkebunannya. Desa Bunihayu sekarang menjadi desa wisata yang terkenal akan kearifan lokalnya.



Tugu nanas di Kecamatan Jalancagak Kabupaten Subang




PENULIS

Refa Ardika

ASAL CERITA

Subang - Jawa Barat

BAHASA

Bahasa Indonesia

KATEGORI

Cerita Rakyat

LABEL

Tidak Ada Label
Favoritkan
Belum ada tanggapan di cerita ini
v: 2.1.0