Risma Pramudita

ASAL USUL DESA KALI CINTA

  

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang gadis bernama Putri. Ia sudah yatim piatu. Putri tinggal di dekat hutan (wilayah Prokimal/Pemukiman Tentara Angkatan Laut sekarang, Kecamatan Kotabumi Utara). Putri menetap disana bersama ibu tiri dan Entin adik tirinya. Mereka hidup miskin dan serba kekurangan. Putri makin sengsara karena dialah yang jadi tulang punggung keluarga. Bahkan pekerjaan rumah pun dibebankan kepada Putri oleh Ibu dan adik tirinya. Hampir tidak ada waktu untuk istirahat. Berangkat pagi, pulang petang. Mengumpulkan kayu bakar untuk dijual atau ditukarkan dengan makanan. Bila tidak ada kayu yang terjual, Putri harus mencari ikan di sungai untuk lauk makan.


Putri sering kedapatan menangis di tepi sungai bilamana telah dimarahi oleh ibu tirinya. Kesalahan kecil saja yang dibuat Putri akan mendatangkan hukuman dan cacian dari kedua orang tersebut. Kesedihan Putri makin memuncak setiap kali mengingat hujatan ibu tirinya yang ditujukan kepada almarhum ayahnya yang tidak meninggalkan harta warisan apapun kepada mereka. 


Hingga pada suatu hari, tidak sengaja putri berbuat salah kembali, kendi air minum terjatuh dari kepalanya saat mengambil air di sungai. Saat itu Putri belum makan dan pusing. Putri bingung cari cara agar ibu tirinya tidak marah besar. Putar otak cari akal namun ‘tak satupun ditemukan. Makin gundah dan takut si Putri. Ingin rasanya mengarang cerita bohong, tapi hatinya tak mau berdusta. Meski jujur itu sering menyakitkan dampaknya, tapi Putri bulat hati untuk mengungkapkan apa yang terjadi sebenarnya. Meski itu mempertaruhkan keselamatan dirinya. Benar saja, pukulan bertubi-tubi mendarat di tubuh Putri yang lemah dan lusuh. Akhirnya Putri di usir dari rumah oleh ibu tirinya. Dia disuruh pergi mencari ganti kendi yang pecah. Tidak boleh pulang sebelum dapat ganti kendi yang baru. 


Langkah gontai Putri ‘tak tentu arah mana yang hendak dituju. “Kemanakah harus melangkah? Kepada siapa hendak mengadu, menceritakan duka lara ini?” tanya hati Putri. Sanak saudara pun tidak punya. Ia hanya bias terus berjalan mengikuti kemanapun kakinya melangkah. Hingga tibalah ia di tepi sungai, tempat ia biasa mengambil air, mandi dan mencuci pakaian. Perasaan Putri merasa tenang tiap kali berada di tepian sungai itu. Suasana tepian sungai tenang, udaranya segar, dan pemandangannya indah. Namun lelah dan lapar yang mendera tubuh Putri membuatnya tidak bias menikmati keindahan alam disana saat itu. Lalu ia beranjak memasuki hutan untuk mencari buah-buahan sekdar penghilang dahaga dan lapar. 


Baru beberapa ratus meter berjalan, tiba-tiba hujan deras turun. Putri segera mencari tempat berteduh. Kata orang sungai itu berbahaya di waktu hujan. Air sungai dapat meluap dan bisa menhanyutkan apapunn yang dilaluinya. Putri ketakutan membayangkan luapan air sungai itu. Ia pun berlari menjauhi tepian sungai kea rah yang lebih tinggi. Ia menjumpai sebua gua dihadapannya. Dan ia pun berlindung disana. Hujan tak kunjung berhenti. Dan benar saja air sungai itupun meluap sampai ke bibir gua, hanya tinggal beberapa jengkal lagi menyentuh kaki Putri. 


‘Tak terperi rasa takut Putri. Ia takt ahu harus berbuat apa. Diam di tempat celaka, hendak pergi pun tak bisa. Ia hanya bisa berdoa. Seperti nasehat almarhum orang tuanya agar tidak pernah putus harapan dan selalu berdoa dalam segala keadaan, susah ataupun senang. Tuhan mendengarkan doa gadis itu. Hujan pun reda. Putri menghela napas lega dan bersyukur. Saat itu hari sudah mulai petang. Putri pun memutuskan untuk bermalam di dalam gua itu. Karena meskipun hujan berhenti tetapi luapan air sungai belum surut. Belum aman meninggalkan tempat tersebut. Tiba-tiba Putri dikagetkan oleh seekor ikan patin berwarna putih yang melompat keluar dari luapan air dan menggelepar-gelepar di sisinya. Ikan patin itu cukup besar, senang putri melihatnya. “Alhamdulillah, pucuk dicinta ulampun tiba. Saat lapar begini ada ikan menghampiri. Cukuplah untuk mengganjal perutku malam ini,” kata Putri. 


Putri mengambil dua buah batu yang ada di gua itu, kemudian mengumpulkan ranting-ranting kering yang ada dalam gua. Lalu dua batu tadi digosok-gosokkan untuk menghasilkan percikan api yang dapat membakar ranting-ranting itu. Api pun jadi, siap untuk memanggang ikan. Putri beranjak hendak mengambil sang ikan. Gerakan tubuh ikan mulai melemah karena sudah lumayan lama tidak berada di air. Putri tertegun setelah secara seksama memperhatikan sang ikan dan tatapannya melihat mata ikan itu. Tiba-tiba iba menggelayuti hati Putri. Ia tak tega memanggang ikan patin putih tersebut sebagai santapannya. Terbayangkan oleh Putri nasib ikan itu sama dengan dirinya, terpisah dari keluarga, hanya sendirian saja. 


Keanehan pun terjadi saat Putri menjumput sang ikan patin putih dari tanah dan memandang mata ikan itu. Ia merasa itu bukan tatapan ikan, tetapi tatapan manusia. Ada perasaan sayang yang tiba-tiba muncul. Rasa sedih di hatinya tiba-tiba sirna, berubah jadi bungah keceriaan. Niatnya untuk memakan ikan patin putih itu berubah, ia ingin memelihara dan membawanya pulang ke rumah. Putri mencari daun talas dan menjapit ujung-ujungnya dengan ranting kecil untuk mengunci dan membentuk daun itu seperti mangkuk dan mengisinya dengan air. Lalu tubuh ikan patin putih yang mulai lemas itu diletakkan di dalamnya. 


Mentari menyembul di ufuk timur. Putri melangkahkan kaki meninggalkan gua. Air sungai yang meluap sudah surut. Putri menyusuri jalan setapak yang ada di depan gua menuju ke rumahnya dengan hati-hati karena licin, becek dan berlumpur. Di dekapnya ikan patin putih dalam daun talas untuk dibawa pulang. Dalam perjalanan pulang Putri baru teringat akan kekejaman ibu tirinya. Bagaimana nantinya bila ikan patin putih itu di masak oleh ibu tirinya. 

Benar saja, sesampai di rumah Putri kembali dimarahi sang ibu. Pulang tidak membawa kendi, tapi membawa peliharaan baru ikan patin putih. Ibu menyuruh Putri memasak ikan itu. Putri menolak dan meminta belas kasih ibu tirinya agar tidak menjadikan ikan tersebut sebagai santapan mereka. Putri meratap, memohon pada ibu tirinya. Akhirnya sang ibu tiri mengabulkan permohonan Putri dengan catatan ia tidak lagi lalai dalam tugasnya. 


Kemudian Putri masuk ke biliknya yang hanya dibatasi geribik reot terpisah dengan dapur dan kendang ayam. Ikan patin putih dimasukkan ke dalam belanga dan di letakkan di sudut bilik. “hei ikan patin putih, mulai sekarang namamu Bandu. Apakah kamu suka?” tanya Putri. Tiba-tiba ikan itu berkata: “Ya. Terima kasih Putri.” Alangkah kaget bukan alang kepalang Putri mendengar suara ikan itu. Kebingungan Putri tengok kanan-kiri memastikan yang bicara adalah bukan ikan yang ia pelihara, tapi orang lain. Namun tak seorangpun di situ selain dirinya. Kembali Putri berkata: “apakah kau yang berbicara Bandu?” Bandu menjawab: “ya, suara itu adalah suaraku Putri.”


“Apakah saya sedang bermimpi?” tanya Putri. “Kau sedang tidak bermimpi Putri. Saya memang yang berbicara padamu. Ini balasan untukmu yang telah berkali-kali menyelamatkanku. Saat terlempar dari sungai dan dari kejahatan ibu tirimu.” 

“Siapakah dirimu sebenarnya wahai Ikan Patin Putih ajaib?” tanya Putri. “Tak perlu kamu tahu siapa diriku sebenarnya. Sekarang ijinkan aku membalas budi baikmu Putri.” Sejak saat itu Putri tidak pernah kesulitan dan kelaparan lagi. Bandu sang ikan patin putih ajaib dengan kesaktiannya menyediakan semua kebutuhan Putri tanpa diketahui siapapun. 


Hari pun berganti minggu. Minggu berganti bulan. Suatu hari saat terbangun dari tidur Putri terkejut sebab Bandu tidak ada dalam belanga. Putri berlari keluar bilik, benar saja dugaannya. Bandu telah dimasak dan dimakan oleh Entin. Putri hanya mendapati tulang-belulang Bandu dalam piring tanah bekas Entin makan. ‘Tak kuasa Putri menahan tangisnya, meratapi kematian Bandu. Lalu Entin pergi meninggalkan Putri yang masih menangis. Tulang belulang Bandu dikumpulkan dan di bawa ke tepian sungai, lalu dilemparkan ke dalamnya. Ajaib, tulang belulang Bandu menyatu dan berubah jadi ikan lagi. Bandu hidup kembali. 


Bandu menghampiri Putri. Kemudian Bandu di bawa kembali ke rumah. Keesokan harinya terulang kembali, Bandu dimakan Entin. Hingga untuk ketiga kalinya, saat Bandu diambil dari belanga, keajaiban terjadi lagi. Tubuh Bandu membesar dan semakin membesar bak ikan raksasa. Ibu tiri Putri dan Entin ketakutan. Bandu ikan patin putih ajaib itu menunjukkan patil (taring) berbisanya. Ibu anak itu lari tunggang langgang. Mereka ketakutan dengan ancaman Bandu dan ‘tak berani kembali lagi ke rumah itu. 


Akhirnya Putri hidup Bahagia. Bandu sang ikan patin putih yang dipeliharanya ternyata adalah seorang pangeran sakti mandraguna yang menyamar untuk mencari cinta sejati. Putri di persunting oleh Sang Pangeran Bandu. Mereka berdua hidup berbahagia selamanya. Hingga menjadi kakek-nenek Pangeran Bandu dan Putri masih sering mengunjungi tepian sungai tempat mereka berdua pertama kali bertemu. Karena kebetulan Kawasan tersebut kemudian dijadikan daerah trensmigrasi dan tempat pemukiman keluarga TNI Angkatan Laut yang berasal dari Jawa. Maka tempat itu kemudian dikenal dengan nama “Kali Cinta”. Kali dalam Bahasa jawa artinya sungai. Gua tempat Putri berteduh sudah tidak ada, tergerus dan diratakan jadi Kawasan pemukiman penduduk desa Kali Cinta. 


PENULIS

Risma Pramudita

ASAL CERITA

Desa Kali CInta, Kecamatan Kotabumi Utara, kab. Lampung Utara

BAHASA

Bahasa Indonesia

KATEGORI

Dongeng

LABEL

Tidak Ada Label
Favorit
Belum ada tanggapan di cerita ini
v: 2.1.1