Sumiati smpn3 salawu

Asal-usul Nama Kampung Cipicung

Pada zaman dahulu ada sebuah kampung di wilayah kabupaten Tasikmalaya bernama kampung Babakan. Di kampung tersebut terdapat sebuah pohon picung (pohon kepayang) yang sangat besar saking besarnya jika dipeluk oleh tiga orang dewasa sekaligus pun diameter pohon picung itu tidak terpeluk. Warga kampung percaya bahwa dibawah tanah dekat pohon picung itu tumbuh, ada sebuah mata air yang  sangat besar yang bisa dimanfaatkan oleh warga kampung ketika musim kemarau tiba. Namun tidak ada seorangpun warga kampung yang berani mengusik daerah sekitar pohon picung itu karena warga kampung merasa bahwa daerah sekitarnya itu angker dan menyeramkan. Banyak warga kampung yang mengalami kejadian aneh disekitar tempat pohon picung itu. 

Suatu hari kampung Babakan dilanda kemarau yang panjang, warga kampung kesulitan mendapatkan air sampai warga kampung Babakan harus mencari air ketempat yang cukup jauh. Akhirnya warga memberanikan diri untuk membuktikan bahwa ada mata air didekat pohon picung raksasa tersebut. Warga mendesak para sesepuh kampung untuk membuka mata air tersebut, para sesepuh kampung itu adalah Ki Saleh, Eyang Ewon dan Eyang Muhipan. 

Mereka bertiga adalah orang-orang yang sakti dan memiliki ilmu kebatinan yang tinggi. Sehingga ketiganya dijadikan sebagai sesepuh kampung. Setiap warga yang mengalami kesulitan atau ada permasalahan selalu datang kepada para sesepuh tersebut sehingga ada jalan keluar untuk permasalahan warga. 

Dari ketiga orang sesepuh kampung tersebut, ki Saleh adalah orang yang dinilai warga paling sakti dan pemberani. Ki Saleh memiliki urat hitam diatas alis mata kirinya, dan urat hitam tersebut tidak bisa dilihat oleh bangsa manusia tetapi hanya bisa dilihat oleh makhluk gaib tak kasat mata. Jika para makhuk gaib itu bertemu dengan ki Saleh dan melihat urat hitam tersebut mereka akan ketakutan dan lari.

Atas permintaan warga maka ketiga orang sesepuh kampung Babakan akhirnya mau mencari sumber air yang berada didekat pohon picung, namun sesampainya didekat pohon picung raksasa, ki Saleh merasakan aura negatif disekitar pohon picung. Hal yang sama juga dirasakan oleh Eyang Ewon dan Eyang Muhipan. 

“Aku merasakan ada aura negatif didalam pohon picung raksasa itu Saleh” kata Eyang Ewon

“Akupun merasakan hal yang sama” Kata Eyang Muhipan.

Mendengar kata-kata dari kedua sesepuh itu akhirnya ki Saleh mulai mendekati pohon picung dan memeriksa keadaannya. Ilmu kebatinannya digunakan, matanya ia pejamkan lalu mulutnya komat-kamit baca mantra. Tak lama kemudian, ki Saleh membuka mata.

“Pohon picung ini bersih dari aura negatif, eyang. Tidak ada makhluk jahat yang menempati pohon raksasa ini” kata ki Saleh dengan yakin.

“Tapi aku merasakan aura negatif begitu kuat didaerah ini” kata Eyang Ewon

“Baiklah akan kuperiksa sekali lagi eyang” kata Ki Saleh, sambil kembali mendekati pohon picung raksasa lalu mulutnya komat-kamit lagi, ki Saleh berputar mengelilingi pohon raksasa itu lalu berhenti didekat sebuah batu hitam tak jauh dari tempat pohon picung raksasa itu tumbuh. 

“aku merasakan aura negatif itu sangat kuat disini eyang” kata ki Saleh sambil menunjuk kepada batu hitam itu.

“Coba kamu periksa Saleh! apa yang ada didalam batu hitam itu” perintah Eyang Muhipan

“Baiklah” jawab ki Saleh sambil mulai berkonsentrasi menerawang isi batu hitam tersebut. 

Seperti yang dilakukannya tadi, Ki saleh memejamkan mata berkonsentrasi membaca mantra, lalu tiba-tiba ki Saleh merasa terkejut. 

“Ada apa didalam batu itu Saleh?” tanya eyang Ewon penasaran

“Aku melihat ada banyak sekali Jin jahat didalamnya” jawab Ki Saleh

“Jin jahat?” kata eyang Ewon dan Eyang Muhipan berbarengan. 

“Betul eyang, setelah kuterawang ada sekitar 18 jin didalam batu itu, satu diantara mereka adalah jin yang paling kuat yang menjadi pemimpin diantara mereka, itulah yang membuat hawa negatif didaerah ini” kata ki Saleh.

“Sebaiknya jangan engkau ganggu mereka, Saleh!” kata Eyang Ewon.

“Betul kata ki Ewon, sebaiknya janganlah kau ganggu mereka Saleh!” Eyang Muhipan juga berpendapat sama dengan Eyang Ewon.

“Kalau tidak kubersihkan aura negatif itu maka kampung Babakan akan kesulitan mendapatkan air, eyang” kata ki Saleh dengan tegas.

“Karena disinilah satu-satunya harapan kita untuk keluar dari bencana kekeringan yang melanda kampung kita” kata ki Saleh lagi. Lalu dengan ilmu yang dimilikinya ki Saleh pun mengeluarkan jin-jin itu dari dalam batu hitam.

“Saleh, apa yang kau lakukan dengan batu itu?” teriak eyang Ewon kaget

“Sudah terlambat eyang, aku mengeluarkan jin-jin itu dari dalam batu” jawab ki Saleh. 

“Hahahaha.... “ jin-jin itu keluar satu persatu dan mulai menyerang Eyang Ewon dan Eyang Muhipan serta ki Saleh.

“Kenapa kau mengganggu kami?” kata salah seorang jin bermata merah dengan nada marah.

“kami tidak mengganggumu, wahai jin jahat. Kami hanya akan membebaskanmu dari sini!” Kata ki Saleh dengan berani. 

Jin-jin itu marah dan menyerang dengan membabi buta ketiga sesepuh kampung. Pertarungan sengit pun terjadi, pihak jin yang merasa terganggu oleh kehadiran para sesepuh kampung. Eyang Ewon dan Eyang Muhipan tampak keteteran melawan pasukan jin itu. Sampai mereka berdua terbanting ke tepi pohon dan kesakitan. Ki Saleh yang melihat kedua orang temannya terlempar oleh jin merasa marah.

“Hai para jin jahat, kemarilah lawan aku!” tantang ki Saleh 

Para jin yang berjumlah tujuh belas itu mendekat kearah ki Saleh, lalu menyerangnya. Ki Saleh menangkis serangan jin-jin itu dengan semua ilmu yang dimilikinya, terutama dengan menggunakan urat hitam yang ada di atas alis mata sebelah kirinya. 

Ketika para jin melihat urat hitam itu, mereka menjerit lalu hangus terbakar. Satu persatu para jin jahat itu kalah oleh ki Saleh. tinggal satu jin yang paling kuat yang masih bertahan. Pertarungan sengit pun terjadi selama hampir tiga jam. Eyang Ewon dan Eyang Muhipan tidak bisa berbuat banyak hanya bisa menonton ki Saleh yang gagah berani melawan jin jahat itu karena mereka kesakitan akibat serangan para jin itu.

Akhirnya, ki Saleh memenangkan pertarungan itu, jin jahat itu menyerah setelah diserang habis-habisan oleh ki Saleh dan terutama karena kekuatan yang ada pada urat hitam diatas alis mata kirinya, jin jahat itu menyerah dan ketakutan.

“Ampun ki, ampun aku menyerah. Aku akan pergi jauh dari tempat ini asalkan engkau jangan membunuhku” kata jin jahat itu.

“Baiklah kubebaskan kau jin jahat, tapi sebelumnya maukah engkau masuk agama kami?” kata ki Saleh.

“Agama apa?” tanya jin itu penasaran.

“Maukah kau membaca syahadat?” kata ki Saleh, jin itupun mengangguk pelan.

“Baiklah, itu adalah kehendakmu, maka ikutilah kata-kataku!” kata ki Saleh. lalu ki Saleh membaca dua kalimat syahadat diikuti oleh jin itu. 

“Alhamdulilah, sekarang engkau sudah menjadi muslim. Carilah dari bangsamu yang sama-sama muslim lalu belajarlah kepadanya apa yang harus engkau lakukan!” kata ki Saleh lagi, jin itupun mengangguk tanda mengerti lalu menghilang. 

Ki Saleh kemudian menolong eyang Ewon dan juga eyang Muhipan yang terluka akibat serangan jin. Setelah selesai mereka bertiga pun pulang ke kampung Babakan ketika hari sudah hampir tengah malam.

Keesokan harinya, Eyang Ewon, Eyang Muhipan serta Ki Saleh mengajak semua warga kampung Babakan menuju pohon picung raksasa untuk menebang pohon itu. Karena diyakini dibawah pohon picung itu terdapat sumber mata air yang bisa mengatasi bencana kekeringan di Kampung Babakan. 

Aura negatif disekitar tempat itu sudah tidak terasa lagi, hanya udara sejuk dan asri sajalah yang terasa. Seluruh warga kampung bergotong royong untuk menebang pohon picung itu, laki-laki perempuan, tua muda mereka saling bahu membahu menebang pohon raksasa itu. 

Karena pohonnya sangat besar, diperlukan waktu berhari-hari untuk menebangnya karena waktu itu belum ada alat yang bisa memotong pohon dengan mudah. Mereka hanya menggunakan kapak dan patik serta golok untuk menebang pohon. 

Akhirnya dengan gotong royong warga kampung, pohon picung itupun berhasil ditebang, kayunya dimanfaatkan oleh warga yang membutuhkan. 

Setelah berhasil ditebang, benar saja dibawah pohon tersebut muncullah mata air yang begitu deras yang diberi nama mata air Ciliang, yang mengalir sampai sekarang memenuhi kebutuhan warga kampung Babakan. 

Dan mulai saat itu nama kampung Babakan berubah menjadi kampung Cipicung yang berasal dari kata cai dan pohon picung. Warga kampung Cipicung hidup tentram dan bahagia. 


PENULIS

Sumiati smpn3 salawu

ASAL CERITA

BAHASA

Bahasa Indonesia

KATEGORI

Cerita Rakyat

LABEL

asal usul
Favorit
Belum ada tanggapan di cerita ini
v: 2.1.0