Ria Triana

Lapidin dan Lagu Kembang Gadung

  

Lapidin adalah seorang pemuda yang gagah. Ia tekun beribadah dan berperangai baik. Sejak kecil ia menuntut ilmu di pesantren. Ia merupakan bekas anggota Prajurit Bangus Rangin yang tercerai-berai. Mereka prajurit yang sangat gigih melawan penjajah Belanda pada saat itu. Tak heran jika ia tumbuh menjadi seseorang yang berani dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.


Di dalam pengembaraannya, Lapidin melanglangbuana ke beberapa tempat. Suatu ketika sampailah ia di daerah Subang. Rakyat Subang pada saat itu sangat menderita. Tenaga rakyat diperas dalam kekejaman kerja paksa oleh penjajah Belanda. Mereka hidup dalam penderitaan dan kelaparan. Ketika itu ia telah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Ia pun merasa kelelahan. Lalu ia beristirahat di bawah pohon Ki Tambleg. Pohon rindang di wilayah Manyingsal yang berada di pertigaan perkebunan karet. Tak berselang lama, ia meneruskan langkahnya. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ia melihat kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh seorang mandor perkebunan kepada seorang kakek yang tua renta. 


“Hei mandor, hentikan! Tega sekali kamu berlaku demikian kepada orang tua yang tidak berdaya!” ucap Lapidin dengan lantang. Mandor tersebut menoleh ke arahnya. 

“Siapa kamu? Tidak usah ikut campur urusan saya!” jawab si mandor tak kalah lantang.


Tanpa berpikir panjang, mandor tersebut lantas menghampiri Lapidin dan menyerang sekenanya. Ia mengira bahwa Lapidin akan mudah dirobohkan. Namun Lapidin lebih sigap dan ia dapat dengan mudah mengalahkannya. Kemudian mandor itu lari tunggang langgang. 

Lapidin pun mengantar si kakek sampai ke rumahnya. Ketika memasuki pintu rumah, tiba-tiba seorang gadis berteriak melihat kondisi kakek tersebut lalu lari menghampirinya. Gadis itu ternyata anak bungsu si kakek. Ia mengatakan bahwa kakeknya berhutang banyak kepada pemerintah Belanda karena tidak sanggup membayar pajak yang sangat tinggi. Sebagai gantinya, ia harus bekerja di perkebunan tanpa diberi upah. Mendengar hal tersebut, Lapidin merasa geram. Ia berjanji akan menggantikan si kakek untuk bekerja di perkebunan. Sejak ia bekerja di sana, para mandor tidak berani bertindak sewenang-wenang.


Waktu pun berlalu, Lapidin bekerja di perkebunan tanpa mengenal lelah. Si kakek dan anaknya sangat berterima kasih atas kebaikan yang dilakukannya. Kakek itu lantas meminta Lapidin untuk tetap tinggal di rumahnya. Tak hanya itu ia pun berniat untuk menikahkan Lapidin dengan anak gadisnya yang baik hati dan rupawan.


“Daripada kamu bepergian tak tentu arah, lebih baik kamu tinggal saja di sini. Menikahlah dengan si Nyai. Bagaimana, kamu setuju?” ujar si kakek. Lapidin mengangguk tanda setuju. 


Pernikahan sederhana pun digelar. Lapidin dan anak gadis si kakek hidup bersama. Kebahagiaan mereka semakin bertambah tatkala mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Istri yang sangat ia cintai meninggal dunia ketika melahirkan sang buah hati. Lapidin bersedih hati atas kejadian itu. Ia sungguh terpukul dengan kematian istrinya. Sejak saat itu perilakunya sedikit berubah. Ia sering menghadiri acara pementasan seni ketuk tilu atau doger untuk menghibur hatinya. Meskipun yang dia lakukan masih dalam tahap yang wajar karena ia memiliki keteguhan kuat dalam beragama. Dalam pementasan seni yang ia hadiri, ia kerap meminta lagu “Kembang Gadung” untuk didendangkan. Lagu buhun tradisional Sunda yang sering dinyanyikan para sinden dalam berbagai pertunjukkan seni.


Di suatu malam selepas menonton sebuah pertunjukkan seni, Lapidin pulang ke rumah menyusuri kebun bambu. Tiba-tiba ia melihat seseorang berlari tergesa-gesa dengan memikul sesuatu di pundaknya. Ia tidak dapat mengenali orang tersebut karena mengenakan penutup kepala berwarna hitam. Lapidin mencurigai gerak-gerik orang tersebut. Ia lantas mengejarnya dan menepuk pundaknya, namun orang tersebut balik menyerangnya. Karena kepiawaiannya bermain silat, dalam sekejap orang tersebut dapat dirobohkan. Lalu Lapidin membuka penutup kepalanya. Ternyata ia adalah Sarkawi. Perampok ulung yang sudah lama menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Saat itu ia mengaku telah mengambil harta milik seorang pejabat pemerintah Belanda. Ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Kemudian timbul niat Lapidin untuk mengambil harta tersebut dan membagikannya kepada rakyat miskin. 


Keesokan harinya, rakyat merasakan keanehan. Mereka mengaku memperoleh emas atau uang di depan pintu rumahnya masing-masing. Mereka pun merasa sangat senang karena mendapat rezeki yang tidak disangka-sangka.


“Saya menemukan gelang emas di rumah!”

“Saya juga menemukan uang!”

“Kira-kira siapa orangnya yang dengan sukarela membagikan harta bendanya, ya? Apakah malaikat?” ujar seorang di antara mereka bertanya penuh keheranan.


Mendengar hal tersebut, Lapidin turut merasakan kegembiraan yang mereka rasakan. Muncul idenya untuk bisa membahagiakan rakyat pribumi dengan mengambil harta dari pemerintah Belanda dan para pengikutnya. Demikianlah kejadian tersebut terus berlanjut. Berulangkali pula rakyat pribumi mendapatkan kegembiraan dengan memperoleh rezeki yang tak disangka-sangka.


Belanda pun mulai resah dengan kejadian tersebut. Mereka lantas menelusuri dan mencari tahu siapakah orang yang telah merampas harta mereka. Satu-satunya orang yang mengetahui bahwa Lapidin pelakunya adalah Sarkawi. Ia selama ini menutup mulut karena merasa takut oleh Lapidin. Namun dalam hati kecilnya, ia mempunyai niat yang berbeda. Ia mengambil harta untuk kepentingan pribadinya bukan untuk kepentingan rakyat yang tertindas.


Suatu ketika Peter Willem Hoflan, pengusaha partikelir Belanda penguasa Pamanoekan & Tjiasemlanden (P&T lands) merasa khawatir. Ia memerintahkan para pesuruhnya untuk mencari orang yang dimaksud dan akan memberikan hadiah kepada siapa saja yang berhasil memberikan informasi tentang perampok tersebut. Mendengar hal tersebut, Sarkawi pun tergoda. Kemudian ia menceritakan bahwa Lapidin adalah pelakunya. Ia pun menambahkan jika Lapidin begitu menggemari lagu "Kembang Gadung". 


Mendengar hal tersebut, pemerintah Belanda lantas menggelar hiburan ketuk tilu dengan menampilkan lagu “Kembang Gadung” untuk memancing Lapidin. Acara tersebut berlangung di halaman Gedung Societet yang sekarang menjadi Gedung Wisma Karya. Saat itu bertepatan dengan hari pembayaran gaji para buruh perkebunan. Orang-orang ramai berdatangan untuk menonton pertunjukkan itu. Polisi Belanda dan anak buahnya menyusup di antara para penonton untuk bersiap-siap menangkap Lapidin.


Bismillah bubuka lagu             (Bismillah memulai nyanyian)

muji sukur ka Hyang Agung   (mengucap syukur kepada Tuhan)

sumembah ka sang karuhun  (menyembah kepada leluhur)

sumujud ka Batara Agung      (bersujud kepada Dewa Agung)


Lagu “Kembang Gadung” mulai dinyanyikan. Penonton riuh tatkala Lapidin muncul ke arena panggung dan seperti biasa ia menari mengikuti irama kendang. Selesai lagu dinyanyikan, Lapidin mulai diserang dari berbagai arah oleh polisi Belanda. 


“Tangkap perampok itu …!” teriak salah seorang di antara mereka sambil menunjuk ke arah Lapidin. 


Lapidin dengan sigap berhasil melarikan diri dan hilang begitu saja. Mereka berusaha mencari ke setiap tempat. Akan tetapi usaha mereka tidak membuahkan hasil. Sejak saat itu, ia menjadi buronan Belanda. Lapidin menjadi musuh besar pemerintah Belanda, namun bagi rakyat pribumi ia orang yang sangat berjasa. Mereka kerap menutup-nutupi keberadaan Lapidin.


Suatu hari, anak laki-laki Lapidin sakit. Kabar tersebut sampai ke telinga Peter Willem Hoflan. Ia lantas menugaskan anak buahnya untuk mengepung rumah Lapidin. Ia yakin bahwa Lapidin akan datang menemui anak semata wayangnya. Ternyata benar, suatu malam Lapidin pulang ke rumah untuk menengok dan mengobati sang buah hati. Ia segera menggendong anaknya untuk pergi ke tabib. Di tengah perjalanan ia diserang dan berusaha untuk melawan. Namun takdir berkata lain, sang anak meninggal dunia. Lapidin tak berdaya. Mereka berhasil melumpuhkannya. Ia ditangkap dan dibawa ke Gedung Societet. Di sana Lapidin mendapat perlakuan yang buruk dari pemerintah Belanda. Karena tak kuat menahan rasa sakit, ia pun wafat. Sebelum mengembuskan nafas terakhirnya, ia meminta untuk mendengarkan lagu “Kembang Gadung” untuk terakhir kalinya.


Untuk mengenang tokoh Lapidin, kini rakyat Subang menjadikan lagu “Kembang Gadung” sebagai lagu pembuka di setiap pementasan pergelaran jaipongan, kiliningan, ataupun wayang golek. Lagu tersebut dianggap sakral dan tidak ada yang berani menari pada saat lagu dinyanyikan.  



Gambar 1 Gedung Societet (kini menjadi Gedung Wisma Karya) di Kabupaten Subang



Gambar 2 Perkebunan Karet di Kabupaten Subang



Gambar 3 Pohon Ki Tambleg (Baobab) pohon langka yang berada di Kabupaten Subang 


PENULIS

Ria Triana

ASAL CERITA

Subang - Jawa Barat

BAHASA

Bahasa Indonesia

KATEGORI

Cerita Rakyat

LABEL

Tidak Ada Label
Favoritkan
Belum ada tanggapan di cerita ini
v: 2.1.0